petualangan kita hari ini diawali dengan senda gurau, ciuman di pipi, dan obrolan kamar yang akrab. namun semua berubah saat negara api menyerang namun semua berubah saat keakraban itu berubah menjadi sesuatu yang cukup frontal. kentut. sangat susah untuk membangun sebuah suasana yang romantis tapi mudah untuk menghancurkannya, seperti kata pepatah “karena nila setitik, lama-lama menjadi bukit” yang artinya kesalahan sedikit lama-lama menjadi bukit kesalahan. dan tadi siang kentut itu menurunkan level romantisme dari “sayaaaang :3” menjadi “WTF”.
dua sejoli ini semakin ricuh bergelut dimabuk kentut asmara. pertarungan pun menjalar ke bagian pantat. di sudut merah, sang penantang menggosokkan jarinya ke daerah anus dan kemudian menyodorkan ke petarung sudut biru. dengan dodolnya si biru menyambut jari maut itu dan menciumnya. belum ada 5 meter dari hidung dia udah hampir muntah aja. OHOK HOEK. dan si merah terkekeh-kekeh ketawa “begooo, dicium beneraaan! bwahahahahahahah :))”
tidak terima diperlakukan secara tidak adil, si biru memasukkan jarinya ke lubang hidung yang bentuknya sama sekali tidak estetis. diambilnya ingus kering a.k.a upil lalu dengan inosen dia leletkan ke merah. “OH SHIT apaan neeh?!” dan mereka malah ketawa-ketawa ga karuan.
pertarungan memanas. jari dikempit di ketek yang basah, berkeringat, dan berbulu. NYOH! diciumnya juga jari laknat itu. HOEK. kecut, seger, apek, geli. pokoknya yeyek banget lah.
capek tarung jijik-jijikan, kita mau pergi aja cari maem. ambil kunci motor sama kunci garasi trus siap cabut. motor uda dikluarin trus doi dengan haha hihi nutup pintu garasi. KLIK.
P: “tunggu deh, tadi kuncinya ga nggantung di dalem kan?”
T: “emm, ga tau”
P: *ngecek* “BANGKE, ngegantung di dalem” *klak klik klak klik* “mampus ga bisa dibuka dari luar”
T: “hah? beneran? serius?”
P: “he eh” =.=
P: “ayo nyari tukang kunci”
*muter2 daerah sekitar*
T: “mana ya mana ya? naah itu tuh itu itu”
P: “anu mas, rumah saya kekunci, kuncinya ngegantung di dalem, kunci duplikat yang saya bawa ga bisa buat ngebuka dari luar. bisa bantu mas?”
M: “oh bisa bisa”
— mas tukang kunci sampe di rumah —
*klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik* — serius, ini lama banget masnya berusaha ngebobol pintu garasi laknat itu —
T: “knapa ga lewat pintu depan aja sih mbukaknya?”
P: “ga bawa kuncinya, kuncinya di dalem rumah juga”
T: “knapa ga nyuruh masnya ngebobol lewat depan aja?”
P: “…. mm.. ada gemboknya. gembok grendel ceklek-ceklek itu lho. aku ga tau tadi digrendel apa enggak”
*klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik klak klik klak kluk klik klak klik* — beberapa puluh menit kemudian, mas-mas kunci masih berusaha, dan akhirnya —
M: “mas, ada jalan lain ga?” — nyerah juga dia >:) —
P: “ada sih mas, lewat depan, tp ga yakin bisa dibuka soalnya ada grendel ceklek-cekleknya mas”
T: “yaudah sih coba aja dulu”
P: “yaudah mas coba aja dulu”
*hup* — mas-mas kunci ngelompat pagar (O.o)
M: “maaf ya mas saya jadi kayak maling, habis tar kelamaan kalo pake mbuka gembok pager dulu”
P: “baiiklaah. coba dibuka mas pintu depan”
*klik* — cepet banget loh!
P: “WUAAAH SELAMAAT, makasih mas makasih”
akhirnya bisa ngebuka pintu garasi lagi — kenapa ga dari tadi langsung ngebobol pintu depan aja yah =.= — dan langsung ga pake basa-basi kita ikut masnya lagi buat ngeduplikat pintu pager + pintu depan. buat jaga-jaga kalo besok IQ-ku jongkok mendadak dan ninggalin kunci ngegantung lagi kayak tadi.
urusan gembok, grendel, kunci dan lubangnya sudah kelar sekarang kita mau makan siang. sampai lah kita di warung mie ayam jepang a.k.a ramen.
T: “mau pesen apa?”
P: “aku seafood ramen aja dah sama lemon tea”
T: “aku chiken chilli ramen original sama es teh”
— jengjet makanan dateng —
P: “trakhir kali aku makan itu, aku mencret”
T: “woh! baunya ga nahan! nusuk banget” :O
P: “dulu waktu aku makan itu seluruh mukaku gemeteran gara-gara kepedesan”
— setelah dua suapan —
T: “aku nyerah, ga kuat” *OHOK* “asem bubuk cabenya nyangkut di tenggorokan”
P: “bwahahahahaha. sini aku bantuin”
— setelah dua suapan —
P: “HUAH, aku menyerah”
balik lagi ke rumah dengan perut panas, kita ngobrol-ngobrol lagi sambil becandaan kayak biasa. ada sesi latian vokal segala. kali ini yang dipelajari bukan ngepasin nada tapi nggeterin nada jadi suaranya kayak nenek-nenek kalo nyanyi. vibrasinya pelan menggelombang lembut.
a~a~a~a~a~a~a~
i~i~i~i~i~i~i~i~i~
u~u~u~u~u~u~u~
e~e~e~e~e~e~e~e~
o~o~o~o~o~o~o~o~
“when you tell me thet u lo~o~o~o~ve me~e~e~e~e~e~”
__________
T: “today is so unexplainable :))”
P: “bukan, hari ini kita membawa hubungan kita ke level yang lebih tinggi”
T: “unexplainable is the highest level of a relationship :))”